Feed on
Posts
Comments


Satu-satunya toilet di stasiun luar angkasa internasional yang terletak dekat dengan orbit bulan rusak. Hal ini mengakibatkan keresahan yang ‘mendalam’ dari para kru.

Hingga saat ini ketiga kru luar angkasa yang berada di orbit harus mencari cara alternatif untuk membuang ‘hajat’ mereka. Mereka sempat menggunakan toilet di kapal kapsul Soyuz. Sayangnya kapasitas toilet tersebut sangat terbatas. Akhirnya mereka pun harus menggunakan kantong cadangan layaknya tempat pembuangan akhir yang ternyata terhubung langsung dengan toilet rusak tersebut.

“Toilet berusia 7 tahun tersebut memang pernah sempat rusak beberapa waktu lalu. Namun kerusakan itu tidak berlangsung lama seperti saat ini. Seperti sebuah rumah di mana saja di dunia ini, memiliki sebuah toilet adalah suatu keharusan,” ujar juru bicara NASA Allard Beutel seperti dikuti melalui Associated Press, Kamis (29/5/2008).

Pesawat luar angkasa Discovery telah dijadwalkan untuk meluncur pada Sabtu pekan ini dan berencana untuk merapat sebentar di stasiun tersebut untuk membawa kebutuhan para awak. Namun untuk menempatkan kebutuhan yang dimaksud merupakan suatu hal yang sangat rumit dan tidak biasa. Hal ini dikarenakan kapasitas berat Diwcovery yang terbatas dan keseimbangannya pun harus diperhitungkan.

Kapasitas perangkat bawaan Discovery, sebuah laboratorium tambahan dengan berat 32.000 pon, merupakan perangkat yang cukup berat sehingga sebuah kumparan besar yang berfungsi sebagai sistem sensor harus dipindahkan untuk memperluas ruangan Discovery.

Kawah Gosses Bluff, dekat Alice Springs, Australia terbentuk karena benturan meteor atau komet terhadap permukaan bumi sekitar 143 juta tahun yang lalu. Luas kawah yang terbentuk adalah seluas 170 ha dan diameter lebih dari 13,5 mil terbentang pada dataran di Alice Spring.

trees
Borneo
“The best friend of earth of man is the tree. When we use the tree respectfully and economically, we have one of the greatest resources on the earth.”

Pepatah mengatakan bola itu bulat. Namun, di antara yang bulat pasti ada yang paling bulat. Sekelompok tim peneliti internasional yang terdiri dari insinyur berbagai negara mengklaim telah membuat bola paling bulat di dunia.

Bukan bola sepak, voli, atau bola untuk bermain yang dibuat tim Avogadro Project ini, melainkan bola yang akan diusulkan sebagai standar internasional untuk satu satuan kilogram. Bola yang punya nilai ilmiah sangat tinggi tersebut menjadi salah satu obyek pembicaraan utama dalam konferensi Instrumentasi dan Teleskop Astronomi SPIE di Perancis, pekan lalu.

Tak mudah membuatnya. Bola tersebut terbuat dari isotop silikon murni, silikon-28, yang dibuat di mesin pengayaan uranium pada fasilitas bekas pembuatan senjata nuklir di Rusia. Dari Rusia, material tersebut diangkut ke lembaga metrologi Jerman untuk disusun menjadi bola kristal. Setelah enam kali gagal, akhirnya berhasil dibuat dua bongkah kristal masing-masing seberat 5 kilogram yang kemudian dikirim ke Australia.

Dengan peralatan optik presisi, bongkahan tersebut dibentuk menjadi bulatan kristal. Masing-masing berdiameter 93,75 milimeter dan massanya sebanding dengan standar kilogram yang dimiliki Australia saat ini. Saking halusnya, tingkat kekasarannya hanya 0,3 nanometer dan beda kelengkungan di berbagai titik antara 60-70 nanometer saja.
‘Jika Anda membuatnya sebesar ukuran Bumi, kekasaran di permukaan hanya 12-15 milimeter dan variasi kelengkungannya 3-5 meter,” ujar Achim Leistner dari Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO).


Bola tersebut memang disusulkan sebagai standar kilogram yang akan ditentukan berdasarkan jumlah atom silikon dalam sebuah bola kristal. Untuk menghitung volume bola digunakan interferometer optik yang akan mengukur jarak antara satu titik dan titik lainnya dari 60.000 lokasi berbeda di permukaan bola. Sementara untuk mengukur kerapatan atom digunakan kristalografi sinar-X yang sanggup melihat struktur kristal susunan atom-atom dalam bola tersebut.

Dengan mengalikan volume dan kerapatan dapat diketahui jumlah atom silikon dalam sebuah bola. Tinggal disepakati berapa jumlah atom yang menjadi standar satu kilogram.

Kilogram merupakan satu-satunya standar pengukuran yang masih ditentukan dengan obyek fisik, yakni sebuah silinder platina iridium di Sevres, Perancis, yang sudah dipakai sejak 120 tahun lalu. Namun, yang menjadi masalah massa logam tersebut lambat laun mengalami perubahan sehingga tidak sama dengan 40 duplikatnya yang disebarkan ke berbagai belahan dunia.

Kelompok ilmuwan yang peduli dengan masalah tersebut mempertimbangkan untuk mendefinisikan ulang satuan kilogram. Komite internasional untuk berat dan pengukuran (ICWM) akan memutuskan perubahan tersebut pada 2011.

WAH
Sumber : NewScientist

Bukti-bukti terbaru mengindikasikan kandungan air di Bulan. Para ilmuwan menemukan jejak air dari sampel tanah Bulan yang dibawa pulang misi Apollo empat dekade lalu.

Jejak air diketahui dari kandungan zat kimia yang mudah menguap di dalam butiran-butiran kaca berwarna-warni dari sampel tanah Bulan. Kerikil semacam ini biasanya terbentuk dari tetesan lava yang membeku saat menerobos ke permukaan.


Kerikil-kerikil kaca tersebut diperkirakan terbentuk dari percikan lava saat terjadi letusan vulkanik sekitar 3 miliar tahun lalu. Sekitar 95 persen kandungan air mungkin menguap ke ruang angkasa. Kadar air di dalam kerikil kaca tersebut hanya sekitar 46 ppm (bagian per mil) atau jauh lebih kecil daripada mineral serupa di Bumi.

“Saya pikir jika beruntung kita segera melihatnya. Tapi seperti kebanyakan orang, saya juga berpikir bahwa peluangnya kecil,” ujar Alberto Saal, pakar geokimia dari Universitas Brown. Ia dan timnya melaporkan temuan tersebut dalam jurnal Nature terbaru.

Untuk mengungkap misteri air di Bulan, NASA telah menyiapkan pengiriman satelit LRO (Lunar Reconnaissance Orbiter) tahun ini. Satelit tersebut akan mengamati kutub-kutub Bulan di samping melakukan survei pendahuluan untuk mempersipakan misi pendaratan manusia ke Bulan pada satu dekade ke depan.

Selain itu, pencarian air juga menjadi salah satu fokus misi LCROSS (Lunar Crater Observation and Sensing Satellite) yang akan diluncurkan tahun 2009. LCROSS akan menghunjamkan dua instrumen yang dibawanya ke permukaan Bulan untuk mendapatkan sampel lebih dalam.

WAH
Sumber : BBC

Siapa mengira dengan menempelkan dua lembar plastik dapat menghasilkan material konduktor yang dapat menghantarkan listrik seperti logam. Penemuan ini menjanjikan pengembangan sistem elektronika dengan materi nonlogam, bahkan material superkonduktor jenis baru.

Konduktor dari plastik itu dikembangkan para peneliti dari Universitas Teknologi Delft, Belanda, yang dipimpin Alberto Morpurgo. Dalam penelitian tersebut mereka menempelkan lapisan kristal plastik polimer jenis TTF setebal satu mikrometer dan kristal organik polimer lainnya jenis TNCQ dengan ketebalan yang sama.


Kedua jenis polimer termasuk insulator atau tidak menghantarkan listrik. Namun, hasil penggabungan keduanya menghasilkan gaya Van der Walls yang menyebabkan bidang permukaan yang saling menempel dapat menghantarkan listrik.

“Kedua permukaannya tidak mengalami perubahan fisika, namun kerja elektron di sepanjang permukaan yang berdekatan berubah,” ujar Morpurgo. Pada kondisi normal, elektron-elektron pada setiap materi tidak dapat berpindah bebas, tapi pada kasus ini elektron dari TTF dapat melompat ke bagian yang disebut hole di TNCQ.

Mereka juga menemukan bahwa sifat konduktivitasnya justru naik saat berada di lingkungan yang lebih dingin. Sifat tersebut berkebalikan dengan sifat logam yang justru menurun kemampuannya menghantar listrik di lingkungan yang dingin.

WAH
Sumber : NewScientist


Sampel meteorit yang jatuh di Australia tidak hanya setua tata surya, namun mengandung dua unsur organik penting yang dibutuhkan untuk membentuk DNA. Penemuan ini mendukung teori bahwa beberapa komponen material utama untuk pembentuk kehidupan di Bumi mungkin memang berasal dari langit.

Jenis molekul organik yang ditemukan dalam meteorit Murchosin yang jatuh tahun 1969 tersebut adalah uracil dan xanthine. Keduanya termasuk dalam kelompok material yang disebut nucleobase, bahan utama penyusun rantai DNA. Uracil dan xanthine juga penyusun RNA, bahan baku protein pada tubuh organisme.

“Sistem kehidupan yang terbentuk mungkin mengadopsi nucleobase dari pecahan-pecahan meteorit untuk membentuk materi genetik primitif, sampai sempurna setelah diturunkan kepada generasi-generasi berikutnya,” ujar Zita Martins, peneliti dari Imperial College London.

Temuan ini menguatkan teori yang diperkenalkan pertama kali oleh astronom Carl Sagan dan koleganya pada tahun 1992. Disebutkan bahwa beberapa bahan penting penyusun kehidupan dibawa komet dan asteroid dan dibawa sepanjang perjalanannya di ruang angkasa.

Material nucleobase ada kemungkinan bukan berasal dari meteorit melainkan dari proses independen yang terjadi di permukaan Bumi. Namun, hasil penelitian menunjukkan hal tersebut mustahil di awal pembentukan Bumi karena kondisi lingkungan yang sangat keras.

Hasil pengukuran sebelumnya menunjukkan bahwa meteorit tersebut setua tata surya sekitar 4,5 miliar tahun. Oleh karena itu, bukan hal mustahil bahwa bibit DNA juga dikirim ke planet-planet lain selain Bumi.

“Meteorit-meteorit tersebut terbentuk sesaat usai kelahiran tata surya sehingga materialnya mungkin menyebar ke seluruh sudut alam semesta,” ujar Max Bernstein, pakar astrokimia di Pusat Riset Ames milik NASA di California, AS.

WAH

Bayi buaya mulai “bercakap-cakap” satu dengan lainnya dan dengan induk mereka beberapa saat sebelum menetas. Agaknya mereka mengeluarkan suara sebagai tanda bahwa waktunya untuk lahir sudah tiba.

“Buaya-buaya kecil itu mengeluarkan suara ‘heem! hemm! hemm!’ tepat sebelum menetas”, tulis Amelie Vergne dan Nicolas Mathevon, dua peneliti dari Universite Jean Monnet di Saint-Etienne, Prancis, Senin (23/6) atau Selasa. “Induk buaya bereaksi sangat kuat untuk memainkan kembali panggilan prapenetasan, kebanyakan dari mereka dengan menggali pasir,” tulis kedua peneliti tersebut di jurnal Current Biology.

Peneliti itu mengamati 10 buaya dan telurnya, mencatat suara yang dikeluarkan bayi-bayi buaya tersebut dan kemudian memainkannya, serta suara acak, ke induk buaya. Suara itu tampaknya menggelitik bayi buaya untuk mulai memecahkan kulit telur mereka, tulis Vergne dan Mathevon.

“Di kebun binatang kami melakukan uji coba, telur dipindahkan dalam beberapa hari setelah dikeluarkan induk buaya. Meskipun begitu, betina buaya tetap menjaga sarangnya,” kata mereka.

Mathevon mengatakan, banyak bayi buaya mulai makan tepat setelah menetas, jadi mungkin penting bagi mereka semua untuk menetas secara bersama dan bagi induk mereka untuk berada di sana saat mereka menetas. “Dalam kondisi ini, penting bagi semua embrio di sarang itu untuk siap menetas pada saat bersamaan sehingga mereka semua dapat menerima perlindungan dan perawatan buaya dewasa,” kata Mathevon dalam satu pernyataan.

Sumber : Ant

Let JESUS lead you


Scientists unearthed a skull of the most primitive four-legged creature in Earth’s history, which should help them better understand the evolution of fish to advanced animals that walk on land.
he 365 million-year-old fossil skull, shoulders and part of the pelvis of the water-dweller Ventastega curonica were found in Latvia, researchers report in a study published in Thursday’s issue of the journal Nature.

Even though Ventastega is probably an evolutionary dead-end, the finding brings new details on the evolutionary transition from fish to tetrapods.

Tetrapods are animals with four limbs and include such descendants as amphibians, birds and mammals.

Although an earlier discovery found a slightly older animal that was more fish than tetrapod, Ventastega is more tetrapod than fish.

The fierce-looking creature probably swam through shallow brackish waters, measured about 3 or 4 feet long and ate other fish. It probably had stubby limbs with an unknown number of digits, scientists said.

“If you saw it from a distance, it would look like a small alligator, but if you look closer, you would find a fin in the back,” said lead author Per Ahlberg, a professor of evolutionary biology at Uppsala University in Sweden.

“I imagine this is an animal that could haul itself over sand banks without any difficulty. Maybe it’s poking around in semi-tidal creeks, picking up fish that got stranded.”

This all happened more than 100 million years before the first dinosaurs roamed Earth.

Scientists don’t think four-legged creatures are directly evolved from Ventastega. It’s more likely that in the family tree of tetrapods, Ventastega is an offshoot branch that died off, not leading to the animals we now know, Ahlberg said.

“At the time, there were a lot of creatures around of varying degrees of advancement,” Ahlberg said. They all seem to have similar characteristics, so Ventastega’s find is helpful for evolutionary biologists.

Ventastega is the most primitive of these transition animals, but there are older ones that are oddly more advanced, said Neil Shubin, professor of biology and anatomy at the University of Chicago. He was not part of the discovery team but helped find Tiktaalik, the fish that was one step earlier in evolution.

“It’s sort of out of sequence in timing,” Shubin said of Ventastega.

Ahlberg didn’t find the legs or toes of Ventastega but was able to deduce that it was four-limbed because key parts of its pelvis and its shoulders were found. From the shape of those structures, scientists were able to conclude that limbs, not fins, were attached to Ventastega.

One question that scientists are trying to answer is why fish started to develop what would later become legs.

Edward Daeschler, associate curator of vertebrate zoology at the Academy of Natural Sciences in Philadelphia, theorizes that the water was so shallow, critters like Ventastega had an evolutionary advantage by walking instead of swimming.

Older Posts »